ITB Dampingi Warga Cikutra, Kota Bandung Bangun Sistem Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Ekonomi Sirkular
Oleh Anggun Nindita -
Editor Muhammad Efriza Pandia
BANDUNG, itb.ac.id – Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), serta Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi (PPBB) ITB menggelar kegiatan “Pengelolaan Sampah Organik Rumah Tangga di Buruan SAE Cikutra, Kota Bandung” Jumat (12/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program pendampingan berkelanjutan yang telah dijalankan sejak 2023 untuk mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan ekonomi sirkular di Kelurahan Cikutra.
Peneliti Utama PPBB-SITH ITB, Ir. V. Sri Harjati Suhardi, Ph.D., menjelaskan bahwa program ini berkembang secara bertahap dari tahun ke tahun. Pada tahap awal, masyarakat diperkenalkan pada pemilahan sampah rumah tangga. Selanjutnya, warga didampingi untuk mengolah sampah organik, hingga akhirnya mampu membangun sistem ekonomi sirkular yang memanfaatkan hasil pengolahan sampah untuk mendukung ketahanan pangan dan kegiatan produktif masyarakat.

Saat ini, Buruan SAE Cikutra menerima sekitar 250 kilogram sampah organik setiap hari dari empat RW di wilayah Kelurahan Cikutra. Sampah yang masuk terlebih dahulu dipilah berdasarkan jenisnya. Limbah organik yang mengandung protein dimanfaatkan sebagai pakan maggot (larva Black Soldier Fly/BSF), sementara limbah berserat digunakan untuk pakan ayam maupun pengolahan maggot. Sisa material yang belum termanfaatkan diolah lebih lanjut menjadi kompos melalui berbagai metode, seperti komposter dan ember tanam.

Menurut Sri Harjati, sistem yang telah dibangun memungkinkan hampir seluruh sampah organik diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat. Maggot yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pakan ayam dan ikan, sementara sebagian lainnya dikeringkan untuk dijadikan bahan pakan ternak bernilai ekonomi. Kompos yang dihasilkan juga digunakan untuk mendukung kegiatan pembibitan dan budidaya tanaman di kawasan Buruan SAE.

Keberhasilan program ini tidak hanya terlihat dari aspek pengelolaan sampah, tetapi juga dari peningkatan kapasitas masyarakat. Warga yang sebelumnya menjadi peserta pelatihan kini berperan sebagai agen perubahan di lingkungannya. Mereka aktif mengedukasi warga lain mengenai pemilahan dan pengolahan sampah organik, bahkan mulai dilibatkan sebagai penyuluh untuk mendampingi wilayah lain yang tengah mengembangkan program serupa.
“Sekarang ibu-ibu di sini sudah menjadi kepanjangan tangan kami. Mereka sudah mampu mengajarkan pengelolaan sampah kepada warga lain, bahkan direncanakan akan turut mendampingi program di kelurahan lain,” ujar Sri Harjati.
Sementara itu, Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, Prof. Zulfiadi Zulhan menilai model yang dikembangkan di Buruan SAE Cikutra menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik dapat dilakukan secara efektif di tingkat komunitas. Menurutnya, pendekatan ini sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Bandung dalam mengurangi beban sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Ia menjelaskan bahwa sampah organik yang telah dipilah dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai guna, mulai dari maggot, pakan ternak, kompos, hingga produk turunan lainnya. Dengan demikian, jumlah residu yang tersisa menjadi sangat kecil.
“Ketika sampah dikelola dari sumbernya dan diolah menjadi produk yang bermanfaat, maka dampaknya tidak hanya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.
Program di Cikutra merupakan bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat ITB yang berfokus pada pengembangan model pengelolaan sampah organik terintegrasi berbasis maggot dan kompos. Pada tahun 2026, program ini juga diperkuat melalui penerapan teknologi konsorsium mikroba AMRITA (Agen Mikroorganisme Konsorsium) yang dikembangkan oleh PPBB dan SITH ITB untuk meningkatkan kualitas kompos dan mendukung budidaya tanaman produktif di lingkungan perkotaan.
Melalui kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat, program ini diharapkan dapat menjadi contoh praktik baik pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan serta dapat direplikasi di berbagai wilayah lain di Kota Bandung maupun daerah lainnya di Indonesia.
.jpg)

.jpg)


.jpg)

