Alumnus ITB Fajrin Rasyid Ajak Mahasiswa Aktif Berorganisasi, Perluas Jejaring, dan Bangun Solusi Nyata

Oleh Ahza Asadel Hananda Putra - Mahasiswa Teknik Pangan, 2021

Editor Anggun Nindita

BANDUNG, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menggelar Studium Generale (KU4078), Rabu (30/9/2026), dengan tema “Membangun Talenta Digital”. Kegiatan diselenggarakan serentak di Aula Barat ITB Kampus Ganesha, Ruang Kelas 9706 Gedung B ITB Kampus Cirebon, dan Ruang U301 ITB Kampus Jatinangor, serta disiarkan secara daring.

Kuliah umum menghadirkan M. Fajrin Rasyid, Co-Founder Bukalapak dan mantan Direktur Digital Business Telkom Indonesia. Ia merupakan alumnus Teknik Informatika ITB angkatan 2004 yang lulus dengan predikat cumlaude dan IPK 4,00. Ia juga menyelesaikan pendidikan MBA di ITB dengan predikat cumlaude pada 2021.

Kegiatan dibuka oleh Direktur Kemahasiswaan ITB, Prof. Muhammad Insanu, dan dimoderatori oleh dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, Dr. Epin Saifudin, M.Pd. Dalam kegiatan tersebut, dibahas pentingnya pengembangan talenta digital untuk menjawab kebutuhan sumber daya manusia di tengah perkembangan teknologi.

Mengutamakan Ide dan Validasi Pengguna dalam Membangun Startup

Fajrin menceritakan perjalanan kariernya, termasuk ketika merintis Bukalapak pada 2011. Menurutnya, modal finansial bukan hal pertama yang harus disiapkan ketika seseorang ingin memulai usaha.

“Yang pertama perlu disiapkan itu teman-teman bukan modal, tapi adalah ide. Setelah ide final, baru bangun tim atau kapabilitasnya, lalu eksekusi. Modal akan mengikuti,” ujar Fajrin.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak menciptakan teknologi hanya karena teknologi tersebut canggih atau menggunakan algoritma terbaru. Menurutnya, inovasi harus berangkat dari persoalan nyata dan memberikan manfaat bagi penggunanya.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan calon pengguna. Dengan memahami kebutuhan pengguna, inovator dapat memastikan solusi yang dikembangkan benar-benar menjawab persoalan.

Fajrin turut menekankan pentingnya memiliki visi jangka panjang. Menurutnya, berbagai pencapaian besar membutuhkan proses dan konsistensi dalam waktu yang panjang.

Birokrasi, Inovasi Korporasi, dan Dampak Skala Nasional
Pada 2020, Fajrin bergabung dengan Telkom Indonesia sebagai Direktur Digital Business. Peralihan dari lingkungan startup ke perusahaan BUMN memberinya pengalaman menghadapi organisasi dengan skala dan proses kerja yang berbeda.

Menurutnya, salah satu pendekatan dalam menghadapi birokrasi adalah mengidentifikasi bottleneck atau hambatan yang mengganggu proses, kemudian menyelesaikannya secara bertahap.

Salah satu pengalaman yang berkesan baginya adalah keterlibatan dalam pengembangan aplikasi PeduliLindungi pada masa pandemi COVID-19. Proses tersebut membutuhkan koordinasi berbagai pihak untuk mengintegrasikan sistem yang digunakan dalam penanganan pandemi.

“Di situlah saya melihat secara langsung bagaimana teknologi bisa mengatasi masalah bangsa. Teknologi benar-benar bisa menyelesaikan masalah nyata di masyarakat,” katanya.

Menciptakan "Multiplier Effect" dan Kekuatan "Storytelling"

Kini, Fajrin menjalani peran sebagai angel investor. Ia telah berinvestasi sekaligus memberikan pendampingan kepada sekitar 20 perusahaan rintisan di berbagai sektor.

Ia memandang peran tersebut dapat menciptakan multiplier effect atau efek pengganda. Dengan mendukung para pendiri perusahaan rintisan, dampak yang dihasilkan dapat menjangkau lebih banyak orang melalui perusahaan yang mereka kembangkan.

Dalam menilai sebuah perusahaan rintisan, Fajrin tidak hanya mempertimbangkan kemampuan tim dan daya tarik produk, tetapi juga purpose atau tujuan yang mendasari perusahaan tersebut.

Ia juga menekankan pentingnya kemampuan storytelling, terutama bagi mahasiswa teknik dan inovator. Kemampuan tersebut dibutuhkan untuk menjelaskan gagasan yang kompleks secara sederhana dan mudah dipahami.

Fajrin mendorong mahasiswa melatih elevator pitch, yakni kemampuan menyampaikan visi dan ide secara singkat dan meyakinkan. Kemampuan tersebut dapat bermanfaat saat memperkenalkan inovasi kepada investor maupun ketika melamar pekerjaan dan beasiswa.

Tantangan Mahasiswa "ABG" dan Semangat Pembelajar Abadi
Fajrin pun membagikan pesan yang pernah diterimanya dari mantan Rektor ITB, Prof. Kusmayanto Kadiman, ketika menjadi mahasiswa baru. Saat itu, ia ditantang menjadi mahasiswa “ABG”, yakni Akademik, Berorganisasi, dan Gaul.

Akademik berarti menjaga prestasi sebagai bentuk tanggung jawab. Berorganisasi berarti aktif dalam kegiatan dan organisasi untuk mengembangkan kemampuan bekerja sama serta bersosialisasi. Sementara itu, gaul dimaknai sebagai upaya memperluas jejaring pertemanan lintas program studi dan latar belakang.

Fajrin sendiri menjalani ketiganya selama menjadi mahasiswa ITB. Selain lulus dengan predikat cumlaude, ia aktif dalam Keluarga Mahasiswa (KM) ITB dan membangun jejaring dengan mahasiswa dari berbagai bidang.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), ia mengingatkan mahasiswa bahwa kemampuan terpenting bukan hanya menguasai teknologi tertentu, melainkan terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan.

“Skill yang paling penting harus dimiliki oleh kita semua di era sekarang bukanlah sekadar AI-nya, melainkan skill untuk bisa belajar skill baru. Kalian harus memiliki growth mindset,” ujarnya.

#studium generale #sg #inovasi #ai #sdg4 #quality education #sdg8 #decent work and economic growth #sdg9 #industry innovation and infrastructure