ITB Dorong Pengembangan Living Lab untuk Perkuat Riset dan Pengabdian Berbasis Komunitas
Oleh --- -
Editor Anggun Nindita
YOGYAKARTA, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) berpartisipasi dalam Living Lab Train-the-Trainers Programme 2026 yang diselenggarakan di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, 24–25 September 2026. ITB diwakili oleh Husna Nugrahapraja, S.Si., M.Si., Ph.D., dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB.
Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi ITB untuk mempelajari pendekatan Living Lab sebagai model kolaborasi yang menghubungkan perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah, dan mitra lainnya dalam menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Program ini merupakan inisiatif kolaboratif antara NL Knowledge House (NLKH), jejaring institusi pengetahuan Indonesia dan Belanda, dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Program tersebut bertujuan memperkuat kapasitas pengelola Living Lab, khususnya dalam membangun kegiatan berbasis partisipasi masyarakat, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Living Lab sebagai Ruang Kolaborasi
Dalam pelatihan, peserta mempelajari prinsip-prinsip pengembangan Living Lab, termasuk model 5C yang terdiri atas Challenge, Community, Contribution, Connect, dan Continue. Peserta juga memperoleh gambaran mengenai penerapan Living Lab di perguruan tinggi serta berbagai praktik kolaborasi berbasis komunitas.

Sejumlah pengalaman pengembangan Living Lab turut dibahas, salah satunya ROH Labs (Roof Over Our Heads) di Yogyakarta. Program tersebut melibatkan masyarakat dalam upaya penataan dan peningkatan kualitas permukiman melalui kolaborasi lintas sektor.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai bagian aktif dalam proses perencanaan dan pelaksanaan solusi.
Husna menilai konsep Living Lab berpotensi dikembangkan untuk memperkuat integrasi antara penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat di ITB.
“Saya melihat Living Lab sebagai platform strategis untuk menghubungkan riset, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Kami berharap dapat mengadopsi metodologi ini dalam program-program pengabdian dan penelitian kami, khususnya yang berbasis komunitas,” ujarnya.
Belajar Langsung dari Kampung Lampion
Pada hari kedua, peserta mengunjungi Kampung Lampion, Kotabaru, Yogyakarta. Di lokasi tersebut, peserta melihat penerapan pendekatan berbasis komunitas dalam pembangunan rumah layak huni dengan melibatkan warga secara langsung.
Kunjungan lapangan tersebut juga memberikan gambaran mengenai tantangan tata kelola, persoalan lahan, serta peluang penerapan model serupa di wilayah lain.

Keikutsertaan ITB dalam kegiatan ini menjadi salah satu langkah untuk menjajaki pengembangan pendekatan Living Lab di lingkungan ITB bersama berbagai mitra. Pendekatan tersebut dinilai relevan untuk mendukung pengembangan solusi berkelanjutan berbasis kebutuhan masyarakat, termasuk pada isu sistem pangan berkelanjutan, kesehatan lingkungan, dan pengembangan masyarakat.

.jpg)




