Hantavirus dan Tantangan Lingkungan Perkotaan, Pakar ITB Soroti Pentingnya Infrastruktur Sanitasi

Oleh Qoulan Tsaqila - Mahasiswa Teknik Sipil, 2023

Editor Muhammad Efriza Pandia

Dok. Pexels

BANDUNG, itb.ac.id – Hantavirus menjadi salah satu topik kesehatan yang belakangan banyak mendapat perhatian masyarakat. Kewaspadaan terhadap virus ini tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga erat kaitannya dengan sanitasi dan pengelolaan lingkungan perkotaan. Menanggapi hal tersebut, Pakar Kelompok Keahlian Teknologi Pengelolaan Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB, Mayrina Firdayati, S.Si., M.T., menekankan bahwa pendekatan rekayasa lingkungan memiliki peran penting dalam memitigasi penyebaran virus tersebut.

Meski baru ramai diperbincangkan, Hantavirus sebenarnya bukan fenomena baru di Indonesia. Virus ini telah terdeteksi sejak dekade 1980-an dan diketahui berasal dari varian yang dikenal sebagai Seoul Virus. Hantavirus termasuk penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.

Gejala infeksi Hantavirus kerap menyerupai penyakit endemik lain, seperti demam berdarah, leptospirosis, maupun nyeri otot yang disertai demam. Kondisi ini menyebabkan banyak kasus tidak teridentifikasi secara spesifik. Namun, pascapandemi Covid-19 dan semakin luasnya penggunaan teknologi Polymerase Chain Reaction (PCR), keberadaan virus ini menjadi lebih mudah dideteksi.

Tikus diketahui sebagai reservoir utama penyebaran Hantavirus. Menurut Mayrina, kondisi lingkungan di Indonesia pada sejumlah wilayah masih berpotensi menjadi habitat ideal bagi tikus. Hewan ini bersifat oportunis dan cenderung berkembang biak di lingkungan yang lembap, kurang terkelola, serta memiliki ketersediaan sumber makanan yang melimpah. Kepadatan permukiman di kawasan perkotaan turut meningkatkan peluang terbentuknya habitat yang mendukung keberadaan tikus.

Pakar Kelompok Keahlian Teknologi Pengelolaan Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB, Mayrina Firdayati, S.Si., M.T.

Menata Sistem Sanitasi dan Drainase di Permukiman
Salah satu langkah penting dalam pengendalian Hantavirus adalah memutus rantai kehidupan vektor pembawanya di lingkungan permukiman. Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta, tantangan utama muncul dari tingginya kepadatan permukiman yang secara tidak langsung menciptakan ruang hidup yang nyaman bagi tikus.

Selain itu, permasalahan juga ditemukan pada sistem drainase. Secara ideal, drainase dirancang untuk mengalirkan limpasan air hujan. Namun, keterbatasan infrastruktur menyebabkan banyak saluran drainase beralih fungsi menjadi tempat pembuangan air limbah rumah tangga atau grey water. Kondisi drainase terbuka yang tercemar limbah organik dari aktivitas domestik menciptakan lingkungan yang mendukung tikus untuk bersarang dan berkembang biak.

Kondisi tersebut semakin kompleks dengan masih ditemukannya praktik yang dikenal sebagai Buang Air Besar Sembarangan (BABS) Tertutup. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika sebuah rumah tangga telah memiliki toilet, tetapi sistem pembuangan limbahnya belum terhubung dengan tangki septik kedap air yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Akibatnya, limbah domestik dapat mengalir langsung ke saluran terbuka atau meresap ke tanah tanpa proses pengolahan yang memadai.

Ketidaksesuaian sistem pengelolaan limbah ini berpotensi mencemari lingkungan sekaligus membuka akses bagi tikus untuk mendekati area hunian masyarakat.

“Masalah kita adalah infrastruktur lingkungan itu selalu dinomorduakan. Kita sering merasa sudah bersih hanya karena punya toilet, padahal selama pembuangannya belum aman dan tangki septiknya belum standar SNI, potensi pencemaran itu tetap ada di sekitar kita,” ujar Mayrina.

Menurutnya, tantangan pembangunan sanitasi masih dipengaruhi oleh keterbatasan biaya, terutama bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, serta belum meratanya jaringan instalasi pengolahan air limbah perkotaan. Akibatnya, pembangunan infrastruktur lingkungan kerap belum menjadi prioritas dibandingkan kebutuhan infrastruktur lainnya.

Membangun Budaya Pemilahan Sampah
Selain sanitasi, pengelolaan sampah juga menjadi faktor penting dalam mengendalikan risiko penyebaran Hantavirus. Salah satu tantangan yang masih sering dijumpai adalah penumpukan sampah di kawasan permukiman maupun pasar tradisional.

Pengelolaan sampah menjadi semakin kompleks ketika sampah organik dan anorganik tercampur tanpa proses pemilahan sejak awal. Kondisi ini tidak hanya menyulitkan proses pengolahan di hilir, tetapi juga mempercepat terbentuknya timbunan sampah yang membusuk dan berpotensi menjadi sumber makanan bagi tikus.

“Kunci efisiensi pengelolaan sampah adalah pemilahan di tingkat hulu. Selama sampah organik masih tercampur dalam kondisi basah, teknologi pengolahan apa pun akan tetap boros energi dan tidak akan pernah mencapai hasil yang maksimal,” kata Mayrina.

Oleh karena itu, perubahan perilaku masyarakat untuk membiasakan pemilahan sampah sejak dari sumbernya menjadi langkah yang sangat penting. Selain memudahkan proses pengelolaan di tempat penampungan sementara (TPS), pemilahan sampah juga dapat mengurangi potensi terbentuknya habitat yang mendukung keberadaan tikus.

Mayrina menegaskan bahwa upaya memutus rantai penyebaran Hantavirus dan berbagai penyakit berbasis lingkungan memerlukan perubahan cara pandang terhadap pembangunan infrastruktur lingkungan. Program sanitasi perlu diarahkan pada pemenuhan standar yang lebih baik, sementara pemilahan sampah harus menjadi budaya yang dilakukan secara konsisten.

Sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Konsistensi dalam menjaga kualitas sanitasi dan pengelolaan lingkungan merupakan investasi jangka panjang yang akan mendukung kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan terhadap berbagai ancaman penyakit di masa depan.

#pakar itb #ftsl #lingkungan #hantavirus #sdg3 #good health and wellbeing #sdg6 #clean water and sanitation #sdg11 #sustainable cities and communities #sdg12 #responsible consumption and production