Pakar Akustik Lingkungan ITB Soroti Fenomena Perambatan Suara pada Malam Hari
Oleh Anggun Nindita -
Editor Anggun Nindita
Ilustrasi (Dok. Pexels)
BANDUNG, itb.ac.id — Suara dentuman yang terdengar di Bandung Raya dan sejumlah wilayah lainnya di Jawa Barat mulai pada Sabtu (5/9/2026) dini hari menjadi perhatian masyarakat. Dalam perkembangan terbaru, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM, menyatakan episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sekitar sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB telah berakhir pada Minggu (6/9/2026). Meski demikian, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III (Siaga) dan pemantauan terus dilakukan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya melaporkan suara gemuruh atau getaran turut dirasakan di sejumlah wilayah pesisir Lampung, Banten, hingga Bandung. Mengacu pada keterangan PVMBG, energi akustik yang besar dari aktivitas erupsi dapat merambat hingga ratusan kilometer bergantung pada kondisi atmosfer, termasuk pembiasan suara, temperatur, dan arah angin.
Sementara itu, setelah melakukan analisis tingkat lanjut terhadap data magnet bumi, petir, dan dinamika atmosfer, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (6/9/2026) mengaitkan fenomena suara yang terdengar di Bandung Raya pada dini hari tersebut dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Fenomena tersebut kemudian memunculkan pertanyaan lain. Jika berasal dari suatu sumber yang sama, mengapa suara dapat terdengar keras di satu lokasi, lebih lemah di tempat lainnya, bahkan mungkin tidak terdengar sama sekali?
Dari sudut pandang akustik, jawabannya berkaitan dengan bagaimana suara merambat dari sumber hingga akhirnya diterima telinga manusia.
Dosen Kelompok Keahlian (KK) Rekayasa Kinerja Lingkungan Binaan, Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (FTI ITB), sekaligus pakar akustik lingkungan, Ir. R. Sugeng Joko Sarwono, M.T., Ph.D., menjelaskan bahwa suara di ruang terbuka tidak merambat dalam kondisi yang sederhana. Bidang risetnya mencakup antara lain akustik, soundscape, lingkungan akustik, hingga insulasi suara.
“Suara yang berasal dari satu sumber belum tentu diterima dengan tingkat kekerasan yang sama di setiap tempat. Dalam perambatannya, suara dipengaruhi jarak, kondisi atmosfer, angin dan temperatur, kontur permukaan, hingga keberadaan bangunan atau penghalang di antara sumber dan penerima,” ujarnya.
Perambatan suara di udara terbuka memang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari geometri dan karakter sumber, kondisi meteorologi, penyerapan suara oleh atmosfer, jenis dan kontur medan, hingga berbagai penghalang seperti bangunan dan vegetasi.
Bukan Sekadar Soal Jarak
Dosen Kelompok Keahlian (KK) Rekayasa Kinerja Lingkungan Binaan, Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (FTI ITB), sekaligus pakar akustik lingkungan, Ir. R. Sugeng Joko Sarwono, M.T., Ph.D.
Secara sederhana, semakin jauh dari sumber, suara memang cenderung semakin lemah. Pada sumber titik dalam kondisi ideal, tingkat tekanan suara atau sound pressure level (SPL) berkurang sekitar 6 desibel setiap jarak dari sumber menjadi dua kali lipat.
Namun, kondisi lingkungan nyata jauh lebih kompleks. Atmosfer, permukaan bumi, bangunan, hingga bentang wilayah dapat mengubah pola perambatan suara.
“Jarak memang menjadi salah satu faktor utama, tetapi bukan satu-satunya. Karena itu, kita tidak bisa mengatakan bahwa lokasi yang lebih dekat pasti selalu mendengar lebih keras, sementara lokasi yang lebih jauh pasti lebih lemah. Ada kondisi lingkungan yang ikut menentukan bagaimana energi suara sampai ke suatu tempat,” katanya.
Dengan demikian, perbedaan keras-lemahnya suara yang dilaporkan masyarakat di sejumlah tempat tidak serta-merta menunjukkan bahwa suara tersebut berasal dari sumber yang berbeda.
Hal serupa berlaku ketika melihat perbedaan ketinggian suatu wilayah. Dalam prinsip akustik, tidak tepat apabila diasumsikan bahwa daerah yang lebih tinggi selalu menerima suara lebih keras dibandingkan wilayah yang lebih rendah, maupun sebaliknya.
“Ketinggian suatu tempat tidak bisa dilihat sebagai faktor tunggal. Yang perlu diperhatikan justru keseluruhan geometri antara sumber dan penerima, kontur wilayah yang dilewati suara, serta kondisi atmosfer pada saat kejadian,” paparnya.
Kontur bukit dan lembah, karakter permukaan tanah, keberadaan bangunan, hingga vegetasi dapat memengaruhi perjalanan gelombang suara. Dalam kondisi tertentu, suatu lokasi dapat memiliki jalur rambat suara yang relatif lebih efektif, sedangkan energi suara yang mencapai lokasi lainnya dapat lebih banyak tereduksi.
Angin dan Temperatur Dapat “Membelokkan” Suara
Salah satu faktor penting dalam perambatan suara jarak jauh adalah kondisi atmosfer.
Kecepatan angin maupun temperatur udara tidak selalu sama pada setiap ketinggian. Perbedaan tersebut dapat menimbulkan refraksi, yakni pembelokan lintasan gelombang suara.
Fenomena perambatan suara di udara menunjukkan bahwa gelombang suara yang merambat searah angin dalam kondisi tertentu dapat dibelokkan kembali ke arah permukaan. Sebaliknya, pada arah yang berlawanan, gelombang dapat membelok menjauhi permukaan sehingga terbentuk daerah yang menerima lebih sedikit suara langsung atau dikenal sebagai shadow zone.
“Atmosfer itu bukan medium yang sepenuhnya seragam. Perubahan kecepatan angin dan temperatur terhadap ketinggian dapat membuat lintasan suara membelok,” ungkapnya.
“Akibatnya, dua tempat yang jaraknya hampir sama dari sumber pun bisa menerima tingkat suara yang berbeda,” lanjutnya.
Karena itu, penyebaran suara tidak selalu dapat dibayangkan sebagai lingkaran sempurna yang semakin melemah secara seragam ke segala arah. Kondisi atmosfer yang berbeda dapat menyebabkan energi suara lebih terkonsentrasi menuju daerah tertentu dibandingkan daerah lainnya.
Mengapa Malam Hari Menjadi Menarik?
Waktu terjadinya fenomena suara tersebut juga menjadi hal yang menarik dari sudut pandang akustik. Laporan masyarakat di Bandung Raya tercatat pada rentang Sabtu dini hari, sekitar pukul 00.30 hingga 05.00 WIB.
Pada malam hari, permukaan tanah mengalami pendinginan. Dalam kondisi atmosfer tertentu, perubahan temperatur antara udara di dekat permukaan dan lapisan di atasnya dapat membuat gelombang suara membelok kembali menuju permukaan.
Fenomena tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pada kondisi tertentu suara dapat merambat lebih baik pada malam hari. Energi suara dapat lebih terfokus sepanjang permukaan daripada banyak diradiasikan ke arah atas.
“Pada malam hari dapat muncul kondisi atmosfer yang membuat suara lebih banyak dibelokkan kembali ke dekat permukaan tanah. Dalam kondisi seperti itu, suara tertentu bisa terdengar lebih jelas atau menjangkau lokasi yang lebih jauh,” tuturnya.
Namun, kondisi malam hari bukan merupakan penyebab munculnya suara. Kondisi atmosfer tersebut lebih berkaitan dengan bagaimana suara yang telah dihasilkan suatu sumber kemudian merambat dan diterima di lokasi lain.
Penjelasan ini sejalan dengan prinsip yang juga disampaikan PVMBG melalui BNPB, bahwa pelepasan energi akustik yang besar dapat menjangkau jarak jauh bergantung pada kondisi atmosfer, termasuk pembiasan suara serta pengaruh temperatur dan arah angin.
Terhalang Bukan Berarti Tidak Terdengar
Bangunan, bukit, vegetasi, maupun berbagai penghalang lainnya juga tidak selalu membuat suara sepenuhnya hilang.
Gelombang suara dapat mengalami refleksi atau pemantulan serta difraksi, yakni pembelokan gelombang ketika melewati sisi suatu penghalang. Kemampuan suara untuk membelok di sekitar penghalang pun berbeda-beda bergantung pada frekuensinya.
Gelombang berfrekuensi rendah memiliki panjang gelombang yang lebih besar sehingga relatif dapat berdifraksi lebih jauh ke daerah di balik suatu penghalang dibandingkan suara berfrekuensi tinggi. Karena itu, suatu suara masih mungkin diterima meskipun jalur langsung antara sumber dan pendengar terhalang.
Berbagai mekanisme tersebut membuat pengalaman pendengaran masyarakat di satu lokasi tidak cukup digunakan sendirian untuk menentukan posisi maupun jenis sumber suatu suara.
“Kalau seseorang merasa suaranya sangat keras atau merasa datang dari arah tertentu, informasi itu tetap berguna. Tetapi untuk menentukan sumbernya, tidak cukup hanya berdasarkan persepsi pendengaran. Perlu dikombinasikan dengan waktu kejadian, data pengukuran, kondisi meteorologi, dan data dari instrumen pemantauan lainnya,” ujarnya.
Catat Lokasi dan Waktu jika Fenomena Serupa Kembali Terjadi
Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan bahwa laporan masyarakat dapat menjadi informasi pendukung apabila mendapatkan pemantauan dengan baik.
Jika suara serupa kembali terdengar, masyarakat dapat mencatat waktu kejadian secara tepat, lokasi ketika suara didengar, arah datang suara yang dirasakan, jumlah atau pola suara, serta kondisi di sekitar saat kejadian. Apabila memungkinkan dan tetap dalam kondisi aman, rekaman audio maupun video juga dapat menjadi dokumentasi tambahan.
“Semakin banyak informasi yang memiliki catatan waktu dan lokasi yang jelas, semakin baik untuk dibandingkan dengan data lain. Yang penting, masyarakat tidak perlu terburu-buru menyimpulkan sumber suara hanya berdasarkan keras-lemahnya suara yang terdengar di satu lokasi,” pesannya.
Masyarakat juga diimbau tetap tenang dan mengikuti perkembangan informasi dari lembaga resmi yang melakukan pemantauan. Perbedaan tingkat suara yang dirasakan antardaerah merupakan sesuatu yang dimungkinkan secara akustik karena suara melewati berbagai kondisi atmosfer dan lingkungan sebelum akhirnya mencapai pendengar.
.jpg)

.jpg)

