Budaya Ilmiah Unggul untuk Daya Saing SDM

Dalam dokumen Rancangan Akhir Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional atau RPJPN 2025-2045 digariskan Visi Indonesia Emas sebagai ”Negara Nusantara Berdaulat, Maju, dan Berkelanjutan”.

Salah satu kekuatan modal dasar yang dimiliki Indonesia adalah modal manusia, atau potensi insani.

Dalam RPJPN ini, tahapan pembangunan modal manusia meliputi pemenuhan pelayanan dasar, percepatan pembangunan SDM berkualitas dan inklusif, penguatan daya saing SDM, dan perwujudan manusia Indonesia yang unggul.

Kualitas SDM dalam tulisan ini diuraikan ke dalam tiga aspek: (i) penguasaan pengetahuan; (ii) kompetensi; dan (iii) kemampuan untuk belajar.

Penguasaan pengetahuan diraih ketika seorang mahasiswa menyelesaikan studi di suatu perguruan tinggi (PT). Penguasaan pengetahuan tersebut memberikan kemampuan untuk memahami fenomena atau masalah tertentu.

Dengan menjalani berbagai latihan praktis semasa studi, mahasiswa mampu memecahkan masalah di bidang tertentu, secara terukur dan teruji. Ini adalah kompetensi yang dia raih. Selain kedua aspek itu, melalui keseluruhan proses belajar di kampus, mahasiswa juga belajar tentang ”cara untuk belajar”. Ini memberikan kemampuan untuk terus belajar.

Ketiga aspek tersebut menentukan kualitas dan daya saing SDM. Oleh karena itu, suatu PT perlu mampu untuk terus-menerus meningkatkan ketiga aspek kualitas SDM tersebut.

Upaya peningkatan kualitas pengetahuan SDM, dalam hal ini lulusan PT, harus didukung dengan peningkatan kualitas pengetahuan yang ada pada PT itu sendiri. Langkah kunci di sini adalah peningkatan intensitas dan kualitas dari penelitian para dosen. Semakin tinggi kualitas pengetahuan para dosen, semakin tinggi pula kualitas pengetahuan mahasiswa.

Kampus harus menciptakan atmosfer akademik yang kondusif dan menumbuhkan budaya ilmiah yang unggul. Ini akan membentuk karakter mahasiswa yang akrab terhadap pengetahuan, menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran.

Untuk meningkatkan kompetensi lulusan, PT perlu memperluas dan memperkuat relevansi dari semua kegiatan Tridharma (pengajaran, penelitian, pengabdian pada masyarakat). Ini bisa dicapai melalui peningkatan responsiveness. Semakin suatu kampus responsif terhadap masalah yang berkembang di masyarakat, semakin tinggi relevansi dari kegiatan Tridharma di kampus terhadap masalah itu.

Terakhir, aspek kemampuan belajar. Ini kunci untuk daya saing SDM. Di kancah global, pengetahuan itu terus-menerus berkembang secara dinamis, dan masalah di dunia kerja pun senantiasa dinamis. Meski kita memiliki tingkat penguasaan pengetahuan dan kompetensi yang tinggi, ini semua bisa kehilangan relevansinya ketika terjadi perubahan-perubahan di lingkungan kerja.

Untuk memiliki daya saing, dibutuhkan kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan serta kemampuan untuk mengantisipasi tantangan dan peluang. Ini dapat dicapai dengan cara terus-menerus belajar hal-hal baru dan menyintesiskan yang baru dengan yang sudah ada. Kuncinya di sini adalah kemampuan untuk berpikir multidisiplin dan menghasilkan sintesis dalam kompleksitas permasalahan.

Pengalaman ITB
Berikut beberapa langkah yang ditempuh Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam kerangka upaya peningkatan kontribusinya dalam pembangunan SDM Indonesia. Langkah tersebut mencakup pengembangan program budaya ilmiah unggul (BIU), program multikampus dan multidisiplin, serta program pengembangan science techno park (STP).

Program penguatan BIU dikembangkan dengan tujuan menjadikan penelitian sebagai ”darah kehidupan intelektual” (intellectual life blood) di kampus. Diharapkan program ini akan bisa memperkuat kapasitas kampus ITB sebagai sebuah institusi pengetahuan serta menumbuhkembangkan budaya cinta ilmu, budaya multidisiplin, dan sikap menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran, dan kesetaraan.

Belum lama berselang, ITB meluncurkan program multikampus dan program multidisiplin. Dahulu, ITB identik dengan kampus di Jln Ganesha, Bandung. Dengan berjalannya waktu, lahir ITB Kampus Jatinangor. Tak lama sesudah itu, ITB Kampus Cirebon, dan belakangan ITB Kampus Jakarta.

ITB Kampus Jatinangor menjalankan Tridharma dengan penekanan pada masalah hijau dan perubahan iklim global, serta mendukung pembangunan masyarakat Sumedang dan kawasan sekitarnya. ITB Kampus Cirebon menekankan pada ekonomi kreatif, kota kreatif, serta pembangunan Kawasan Cirebon, Patimban, dan Majalengka (Rebana).

ITB Kampus Jakarta memfasilitasi interaksi antara akademisi ITB, alumni ITB, dan pelaku profesional di berbagai bidang. Semua kampus ITB disatukan oleh Visi/Misi ITB, Norma Akademik/Etika ITB, dan Budaya Ilmiah Unggul. Penganekaragaman kampus-kampus ITB itu diharapkan memperluas dan memperkuat responsiveness dan relevansi ITB, dan pada gilirannya memperkuat kompetensi lulusan ITB.

Melalui proses yang panjang, ITB telah mengembangkan STP ITB. STP ITB berperan untuk memperluas outreach dari kegiatan Tridharma di ITB, dengan memfasilitasi kegiatan penelitian dan inovasi yang bersifat responsif terhadap dinamika masalah di masyarakat. Pelaksanaan penelitian dan inovasi melibatkan mitra dari berbagai pelaku usaha swasta, baik lokal, nasional, maupun asing.

STP ITB bukan lembaga for-profit. Namun, dengan berfungsinya STP ITB, diharapkan lahir usaha rintisan berbasis sains, yang pada gilirannya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan menjawab permasalahan sosial/lingkungan.

Sebagai kesimpulan, PT adalah lembaga yang memiliki peran kunci dalam pembangunan SDM unggul bangsa Indonesia. Untuk bisa berperan optimal, PT perlu terus-menerus melakukan penguatan kapasitas internal serta pengembangan program-program secara terukur dan teruji.

Berkenaan dengan implementasi RPJPN 2025-2045, penguatan perguruan-perguruan tinggi harus dilaksanakan pada tahapan yang sedini mungkin.


Reini Wirahadikusumah,

Rektor Institut Teknologi Bandung

Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id, 28 Juni 2023