Pengembangan Diri melalui Social-network Platform

SAMBUTAN REKTOR ITB

PADA PENYAMBUTAN MAHASISWA BARU ITB TAHUN AKADEMIK 2023/2024

Pengembangan Diri melalui Social-network Platform

Yang saya hormati,

Pimpinan dan Anggota Majelis Wali Amanat,

Pimpinan dan Anggota Senat Akademik,

Segenap Dosen dan Tenaga Kependidikan,

Seluruh Mahasiswa Baru,

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

 

Pertama-tama, dengan rasa syukur dan bangga, saya sampaikan selamat datang kepada seluruh Mahasiswa Baru Institut Teknologi Bandung Tahun Akademik 2023/2024. Saya percaya bahwa Saudara adalah putera dan puteri terbaik bangsa, yang pada bahu Saudara bersandar masa depan dan kemajuan bangsa Indonesia.

Dengan menyandang status sebagai mahasiswa, Saudara kini memulai sebuah perjalanan baru di kampus ITB, sebuah perjalanan intelektual. Tujuan dari perjalanan tersebut bukan sebatas didapatkannya gelar akademik. Yang tidak kalah pentingnya adalah dicapainya kompetensi kesarjanaan, yang mencakup pengetahuan, ketrampilan, sikap serta karakter dan kepribadian. Semakin tinggi gelar akademik yang Saudara raih, diharapkan semakin tinggi pula kualitas kesarjanaan yang terbentuk.

Segenap mahasiswa baru yang saya banggakan,

Di antara Saudara tentu ada yang masuk ke dalam kelompok Generasi Z, dan sebagian lainnya Generasi Millenial. Atau mungkin juga ada yang generasi X? Pemberian label ini sudah lazim kita dengar sehari-hari. Pengelompokan generasi seperti ini pada prinsipnya didasarkan pada dinamika demografi serta perkembangan teknologi, khususnya teknologi digital.Pada hari ini, interaksi melalui social network platform telah terjadi dengan sangat masif. Menurut beberapa sumber data, di awal tahun 2024 ini pengguna aktif platform Instagram, Facebook, Twitter, dan TikTok sudah di atas 100 juta untuk masing-masing platform tersebut. Kalau melihat keunikan pola interaksi lewat masing-masing platform, mungkin kita juga bisa membuat kategorisasi Generasi Instagram, Generasi Facebook, Generasi Twitter/X, Generasi TikTok, atau Generasi Multi-Platorm.

Melalui social network platform kita melakukan profiling, updating, dan sharing beraneka ragam jenis dan bentuk informasi. Informasi tersebut kemudian beredar dan bersirkulasi, membentuk apa yang disebut hyper-connectivity. Ini semua kemudian membawa pengaruh dalam membentuk ‘common experience & perception.’ Ini tentu saja merupakan pengaruh yang signifikan bagi kehidupan kita. Ada yang menyebut pola seperti ini sebagai interaksi di dunia virtual, untuk membedakannya dari interaksi sosial di kehidupan real.

Sebuah pertanyaan yang penting di sini adalah, bagaimana interaksi berbasis platform tersebut dapat kita manfaatkan sejauh mungkin untuk pengembangan diri, khususnya berkaitan dengan pembelajaran (learning). Ada dua aspek yang ingin saya kemukakan di sini. Yang pertama berkaitan dengan pengembangan kemampuan kognitif, dan yang kedua tentang sikap dan perilaku.

Kemampuan kognitif berkaitan dengan proses untuk menghasilkan pengetahuan. Pengembangan kognitif dapat dilakukan dengan terus-menerus melatih, mengasah, dan memperkuat kemampuan kita dalam menguji sebuah kesimpulan atau hipotesis. Kita mengenal prinsip deduktif dan induktif untuk menghasilkan dan menguji sebuah kesimpulan. Ada juga yang menawarkan prinsip abduktif, sebagai suatu kombinasi antara deduksi dan induksi. Kalau suatu kesimpulan dihasilkan dengan berbasiskan data, maka kita perlu mempelajari berbagai metode validasi data. Data yang tidak tervalidasi dapat membawa kita pada kesimpulan yang membingungkan. Berbagai bentuk bias/tendensi personal dapat menggiring kita pada data yang tidak valid. Dengan metode validasi, kita berusaha menghilangkan pengaruh bias/tendensi tersebut.

Kegiatan latihan berpikir deduktif/induktif/abduktif, dan penerapan berbagai metode validasi, memerlukan ketekunan dan keuletan. Latihan seperti ini juga akan mendorong kita untuk bersikap jujur. Kalau prinsip dan metode ini kita terapkan, maka berbagai informasi yang kita peroleh lewat social network platform akan menghasilkan kesimpulan yang memiliki nilai kebenaran. Dan ketika informasi yang bersikulasi memiliki nilai kebenaran, maka social network platform menjadi media pembelajaran dan media pengetahuan yang tepercaya serta mencerahkan. Interaksi berbasis platform dapat berperan mendukung dan memperkaya proses penelitian ilmiah, kegiatan kerakayasaan serta kreatifitas karya seni.

Aspek berikutnya berkenaan dengan sikap dan perilaku. Aspek ini penting, karena kemampuan kognitif yang kita miliki akan kurang berarti, jika kita tidak bisa membawanya untuk perbaikan dan kebaikan bersama. Di berbagai lingkungan kerja, keberhasilan kita ditentukan oleh bagaimana kita berkontribusi bagi lingkungan kerja tersebut. Di sini, kuncinya adalah kepedulian, atau care.

Kita peduli akan sesuatu, ketika perbaikan/kebaikan dari sesuatu tersebut, adalah hal yang berarti dan penting bagi kita. Ketika kita menaruh perhatian pada perbaikan bagi lingkungan kerja kita, berarti kita peduli terhadap lingkungan kerja. Kepedulian ini akan menggerakkan kita untuk menggunakan kemampuan kognitif dan memberikan kontribusi. Kepedulian ini akan meningkat, kalau kita semakin peka akan berbagai hal lain, di luar diri kita sendiri. Kepekaan akan sesama manusia akan menumbuhkan kepedulian sosial, kepekaan akan habitat-habitat lingkungan hidup akan menumbuhkan kepedulian lingkungan. Melalui profiling, updating dan sharing, interaksi berbasis platform menyediakan media bagi kita untuk melakukan eksplorasi, meningkatkan kepekaan, dan kemudian menumbuhkan kepedulian-kepedulian.

Izinkan saya untuk mengutip quote berikut ini dari David Alston, seorang novelis,

Social media is not a media. The key is to listen, engage, and build relationships.”

Jadi, manfaat dari penggunaan social network platform sebagai media, tidaklah semata-mata ditentukan oleh media itu sendiri. Manfaat seperti apa yang akan kita peroleh, bergantung juga pada bagaimana kita mengembangkan dan menjalankan pola interaksi tersebut. Sebagaimana diuraikan di atas, kita dapat mengembangkan interaksi berbasis platform dengan cara-cara: (i) menerapkan prinsip deduktif/induktif/abduktif dan metode validasi data, dan (ii) melakukan eksplorasi untuk meningkatkan kepekaan dan kepedulian. Dengan cara-cara demikian kita dapat menghasilkan manfaat yang luas melalui social network platform. 

Tentu tidak semua pengguna platform memiliki tujuan ataupun keinginan untuk menghasilkan manfaat bersama. Sebagian pengguna platform mungkin merasa puas, kalau sudah bisa ‘menggiring opini,’ atau menjadi ‘influencer.’ Sebagian yang lain tidak peduli akan konsekuensi dari kegiatan mereka di platform. Tetapi kita memiliki kebebasan untuk mengembangkan cara-cara penggunaan platform. Kita bisa menawarkan, memberi contoh, dan mempromosikan cara-cara baru dalam menjalankan interaksi berbasis platform, yang kondusif bagi pembelajaran dan bisa memberikan manfaat yang luas. Kita bisa mengembangkan cara-cara yang baru. Tinggal, apakah kita memiliki kemauan, atau tidak.

Di era Transformasi Digital ini, saya percaya bahwa para mahasiswa dapat memainkan peranan kepeloporan dalam pengembangan cara-cara baru, dalam pemanfaatan social network platform.

Hadirin yang saya hormati,
Segenap mahasiswa baru yang saya banggakan,

Dalam beberapa minggu belakangan ini, Forum Guru Besar (FGB) ITB telah menyelenggarakan serangkaian forum diskusi terbuka, untuk mengembangkan dan merumuskan pemikiran-pemikiran tentang berbagai permasalahan strategis bangsa Indonesia. Rumusan pemikiran tersebut disampaikan sebagai masukan kepada seluruh Pasangan Calon Presiden-Wakil Presiden peserta Pemilu Presiden tahun 2024. Tema yang dibahas bersifat menyeluruh mulai dari bidang Kesehatan, Pendidikan, Kewirausahaan, Ketahanan Pangan, Transformasi Digital, Energi dan Mineral, Transportasi, dan Lingkungan. Rumusan pemikiran tersebut disusun dan disampaikan sebagai bentuk komitmen ITB, khususnya dalam hal ini FGB ITB, untuk berkontribusi terhadap pembangunan dan kemajuan bangsa Indonesia. Sebagai Rektor ITB, saya sampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas inisiatif FGB ITB tersebut. Terlepas dari keterbatasan-keterbatasan yang ada, saya berharap bahwa kontribusi pemikiran FGB ITB tersebut dapat menjadi masukan yang bermanfaat bagi para calon pemimpin bangsa Indonesia.

Sekali lagi saya ucapkan selamat kepada seluruh Mahasiswa Baru Institut Teknologi Bandung Tahun Akademik 2023/2024, dan selamat datang di kampus kebanggaan kita bersama ini. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih melimpahkan Rahmat dan Karunia kepada kita semua, sehingga kita dapat terus-menerus bekerja, berkarya, serta berupaya meningkatkan kemampuan dan karakter kita demi kemajuan bangsa, negara, dan kemanusiaan. Aamiin.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Bandung, 2 Februari 2024

 

Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D.

Rektor Institut Teknologi Bandung