Ahli Tata Kota ITB Ungkap Pentingnya Keberadaan Pohon dan Ruang Hijau untuk Ketahanan Cekungan Bandung

Oleh Anggun Nindita -

Editor Muhammad Efriza Pandia

Ilustrasi pepohonan (Dok. Humas ITB)

BANDUNG, itb.ac.id — Di tengah kawasan Bandung yang semakin padat, keberadaan pohon di tepi jalan, taman, halaman rumah, hingga bantaran sungai memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar mempercantik kota. Bagi kawasan yang berada dalam bentang Cekungan Bandung, pohon dan ruang hijau merupakan bagian penting dari “infrastruktur alami” yang membantu kota menghadapi suhu yang semakin panas, limpasan air hujan, hingga menurunnya kualitas lingkungan.

Guru Besar dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Ir. Ridwan Sutriadi, S.T., M.T., Ph.D., mengatakan bahwa pembangunan perkotaan perlu melihat vegetasi sebagai bagian penting dari sistem kehidupan kota.

Ketika kawasan yang sebelumnya ditutupi vegetasi berubah menjadi bangunan, jalan, dan permukaan beton, kemampuan lingkungan untuk menyerap air serta menahan panas ikut berkurang.

"Dalam kondisi tersebut, kawasan perkotaan menjadi lebih rentan mengalami urban heat island atau pulau panas perkotaan," kata Prof. Ridwan.

"Karena itu, menanam dan mempertahankan pohon bukan sekadar urusan estetika. Di Bandung, keberadaan pohon berkaitan langsung dengan kenyamanan dan ketahanan kawasan perkotaan," lanjutnya.

Cekungan Bandung Membuat Persoalan Lingkungan Saling Terhubung

Sketsa konsep risiko overheating dan banjir di Cekungan Bandung serta strategi penghijauan kota oleh Prof. Ridwan Sutriadi.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena Bandung bukanlah wilayah yang berdiri sendiri secara ekologis. Kota Bandung merupakan bagian dari bentang alam Cekungan Bandung yang wilayah-wilayahnya saling terhubung.

Topografi berbentuk cekungan membuat aliran air dari kawasan yang lebih tinggi, termasuk Bandung bagian utara dan wilayah sekitarnya, bergerak menuju kawasan yang lebih rendah. Jika semakin banyak lahan tertutup beton dan semakin sedikit kawasan yang mampu menyerap air, limpasan permukaan akan meningkat dan dapat memperbesar risiko genangan.

Di sinilah pohon, taman kota, tanah terbuka, dan kawasan bervegetasi memainkan peranan penting. Tanah yang tidak seluruhnya tertutup permukaan keras memberikan kesempatan bagi air hujan untuk meresap kembali ke dalam tanah.

"Artinya, ketika satu pohon dipertahankan atau sebuah kawasan hijau dijaga, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan di sekitarnya. Dalam skala yang lebih luas, ruang hijau ikut menjaga fungsi ekologis Cekungan Bandung," ungkap Prof. Ridwan.

Dengan karakter tersebut, penyelesaian persoalan lingkungan Bandung juga tidak dapat hanya dibatasi oleh wilayah administratif Kota Bandung. Dibutuhkan cara pandang regional yang mempertimbangkan hubungan antara kawasan hulu, perkotaan, hingga wilayah hilir.

Pohon Membantu Kota Tetap Sejuk dan Nyaman
Prof. Ridwan mengungkapkan, di tengah peningkatan kepadatan bangunan, pohon memberikan perlindungan sederhana tetapi sangat penting bagi warga, yakni keteduhan.

"Kanopi pohon dapat menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi pejalan kaki dan masyarakat yang beraktivitas di ruang publik. Keberadaan vegetasi yang terhubung di taman, tepi jalan, permukiman, dan bantaran sungai juga membantu membentuk koridor hijau di tengah kepadatan kota," paparnya.

Konsep tersebut menjadi semakin relevan ketika masyarakat didorong untuk lebih banyak berjalan kaki dan menggunakan transportasi publik. Kota yang ingin menjadi ramah pejalan kaki tidak cukup hanya menyediakan trotoar. Jalur tersebut juga perlu nyaman, teduh, aman, dan terhubung dengan ruang publik.

Karena itu, pohon sebenarnya merupakan bagian dari fasilitas perkotaan, sama pentingnya dengan elemen fisik kota lainnya.

"Ruang hijau juga menyediakan tempat bagi masyarakat untuk berinteraksi, berolahraga, bermain, atau sekadar beristirahat dari kepadatan aktivitas sehari-hari. Dalam konteks tersebut, taman dan ruang publik hijau memiliki fungsi sosial sekaligus ekologis," ucapnya.

Bukan Hanya Banyak Pohon, tetapi Harus Terhubung

Guru Besar dari SAPPK sekaligus ahli tata kota ITB, Prof. Ir. Ridwan Sutriadi, S.T., M.T., Ph.D.

Menurut Prof. Ridwan, penghijauan kota tidak cukup dilakukan dengan sekadar menanam pohon di lokasi yang terpisah-pisah.

Dalam pendekatan ekologi lanskap, ruang hijau akan memberikan manfaat lebih besar apabila membentuk jaringan yang saling terhubung. Taman, jalur hijau jalan, bantaran sungai, halaman permukiman, serta ruang terbuka lainnya dapat menjadi bagian dari satu sistem ekologis kota.

Koridor hijau tersebut juga menjadi ruang hidup bagi keanekaragaman hayati di tengah dominasi kawasan terbangun.

"Vegetasi di perkotaan pun berperan dalam membantu menyaring polutan serta mengurangi dampak langsung aktivitas kendaraan bermotor terhadap lingkungan sekitar," jelasnya.

Karena itu, pembangunan Bandung ke depan perlu memberikan perhatian bukan hanya pada berapa banyak ruang hijau yang tersedia, tetapi juga di mana lokasinya, bagaimana kualitasnya, serta apakah ruang-ruang hijau tersebut saling terhubung.

Dari Pohon Keluarga hingga Taman Saku
Upaya menjaga Cekungan Bandung tidak selalu harus dimulai melalui proyek berskala besar. Masyarakat dapat mengambil bagian melalui berbagai langkah sederhana yang relatif mudah dilakukan.

Prof. Ridwan menyebut pendekatan lowest hanging fruit, yakni tindakan yang murah, cepat dilakukan, tetapi dapat memberikan manfaat langsung.

"Di tingkat lingkungan, misalnya, warga dapat mengembangkan kebun komunitas pada fasilitas umum RT/RW, mempertahankan dan menambah pohon di pekarangan rumah, membuat lubang biopori, serta memanfaatkan lahan kosong menjadi pocket park atau taman saku," tuturnya.

Lorong-lorong permukiman juga dapat dibuat lebih teduh dengan tanaman merambat pada pagar atau pergola. Sementara itu, sistem penampungan air hujan dapat dimanfaatkan pada bangunan publik atau lingkungan permukiman untuk membantu pengelolaan air.

Gerakan sederhana tersebut juga dapat mempertemukan berbagai generasi. Pengetahuan warga senior tentang tanaman lokal, misalnya, dapat dikolaborasikan dengan kemampuan generasi muda dalam penggunaan teknologi dan pengelolaan informasi.

Generasi Muda Bisa Ikut Memetakan Panas Bandung

Sketsa konsep ketangguhan Cekungan Bandung melalui integrasi solusi hijau dan peran generasi muda oleh Prof. Ridwan Sutriadi.

Beliau juga mengingatkan bahwa generasi muda memiliki peluang besar untuk ikut menjaga lingkungan Cekungan Bandung dengan pendekatan berbasis teknologi.

Salah satunya adalah melalui pemetaan partisipatif menggunakan perangkat yang mudah dijangkau untuk mengenali titik-titik lingkungan yang terasa lebih panas, kawasan dengan dominasi tutupan beton, maupun kondisi pohon dan vegetasi kota.

"Sensor suhu dan kelembapan sederhana juga dapat digunakan untuk membangun data mengenai kondisi mikroklimat di tingkat lingkungan," lanjutnya.

Teknologi tersebut membuat penghijauan tidak berhenti pada kegiatan menanam pohon. Masyarakat dapat mengetahui lokasi yang paling membutuhkan penghijauan, memantau perkembangan vegetasi, serta mengevaluasi perubahan kondisi lingkungan dari waktu ke waktu.

Dengan demikian, masyarakat bukan hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengumpulan data dan perawatan lingkungan kota.

Menjaga Pohon Berarti Menjaga Masa Depan Cekungan Bandung

Sketsa konsep transformasi perkotaan berbasis komunitas melalui penghijauan dan mitigasi panas oleh Prof. Ridwan Sutriadi.

Pada akhirnya, tantangan panas perkotaan, genangan, berkurangnya daerah resapan, dan kualitas ruang publik merupakan persoalan yang saling berkaitan.

Karena itu, ruang hijau tidak seharusnya dipandang sebagai ruang sisa setelah pembangunan selesai. Vegetasi justru perlu ditempatkan sejak awal sebagai salah satu komponen utama dalam merencanakan kota.

Mulai dari pohon di halaman rumah, pohon peneduh di trotoar, taman lingkungan, hingga kawasan hijau dalam skala regional, semuanya merupakan bagian dari sistem yang membantu Cekungan Bandung tetap layak huni.

"Di tengah pembangunan kawasan perkotaan yang terus berlangsung, menjaga pohon bukan berarti menghentikan perkembangan kota. Sebaliknya, pohon membantu memastikan pembangunan tetap memberikan ruang bagi air untuk meresap, udara untuk menjadi lebih nyaman, masyarakat untuk beraktivitas, dan lingkungan untuk tetap bertahan bagi generasi berikutnya," tutupnya.

#bandung #urban greening #cekungan bandung #perencanaan kota #ruang terbuka hijau #rth bandung #infrastruktur hijau #urban heat island #ecological planning #tata ruang bandung #kota bebas banjir #isi lahan hijau #eksplor bandung #environment friendly #kota berkelanjutan #sdg11 #sustainable cities and communities #sdg13 #climate action #sdg15 #life on land #sdg6 #clean water and sanitation