Erupsi Gunung Ibu: Penyebab, Bahaya, dan Langkah Mitigasi

Oleh M. Naufal Hafizh

Editor -

Erupsi Gunung Ibu. (Dok BPBD)

BANDUNG, itb.ac.id — Ahli vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr.Eng. Mirzam Abdurachman, S.T., M.T., menyampaikan penyebab, bahaya, dan langkah mitigasi terkait erupsi Gunung Ibu. Diketahui, Gunung Ibu, yang berada di Kabupaten Halmahera Barat, Ibu Utara, Maluku Utara, erupsi pada Senin (27/5/2024).

Berdasarkan informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Ibu meletus sebanyak 95 kali sepanjang tahun 2024. Hingga Senin (27/5/2025), gunung tersebut masih berstatus Awas (Level IV).

PVMBG melaporkan tinggi kolom letusan Gunung Ibu kali ini mencapai 6.000 meter di atas puncak, atau 7.325 meter di atas permukaan laut. Kolom abu yang dihasilkan oleh erupsi tersebut tampak berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat. Dampak dari erupsi tersebut, masyarakat dan wisatawan di sekitar Gunung Ibu dilarang melakukan aktivitas dalam radius 4 km dari gunung serta di area sektoral yang meluas hingga 7 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif.

Dr.Eng. Mirzam menyampaikan, dilihat dari tinggi kolom erupsinya yang mencapai hingga 6.000 meter, volcanic explosivity index gunung tersebut dinilai tinggi dan termasuk dalam kategori eksplosif.

Letusan hebat Gunung Ibu pertama kali terjadi pada tahun 1911 yang merupakan letusan eksplosif. Letusan berikutnya terjadi pada tahun 1998, 87 tahun setelah letusan eksplosif pertama kali. Setelah letusan tersebut, terbentuk sumbat lava dengan volume mencapai 500 m3, sehingga ketika akumulasi energi dari dalam perut gunung sudah tidak tertahan lagi, letusannya menjadi lebih eksplosif sebagaimana yang terjadi mulai dari tanggal 11 Mei 2024 hingga Senin (27/5/2024) malam pukul 03.30 waktu setempat.

“Sebagaimana panci yang ditutup, tetapi kita terus masak, lama-kelamaan tentu akan meletus. Begitu pula dengan gunung api, magma terus bertambah, energi semakin terakumulasi, sampai pada akhirnya tidak tertahankan lagi. Terjadilah erupsi yang eksplosif,” ujarnya.

Penyebab Gunung Api Erupsi

Dr. Mirzam menyampaikan beberapa penyebab meletusnya gunung api yang terjadi secara siklikal maupun nonsiklikal, yang berlangsung pada titik kritis, yaitu di bawah, di dalam, dan di atas dapur magma.

Pertama, yang bersifat siklikal, yaitu injeksi magma baru yang terjadi di dapur magma. Injeksi magma baru menyebabkan dapur magma mengalami kelebihan kapasitas sehingga terjadilah erupsi.

Kedua, terjadi proses pemisahan antara larutan dan gas yang berlangsung di dalam dapur magma. Gasnya akan berada di atas sedangkan bagian yang lebih ringan akan di bawahnya, sehingga ketika tidak mampu lagi ditahan, akan terjadi erupsi.

Ketiga, yang bersifat nonsiklikal, misalnya tiba-tiba dapur magma ambruk sehingga keluar dengan tiba-tiba dan menyebabkan erupsi. Bisa juga ketika ada aktivitas di atas dapur magma, seperti terdapat badai, gempa bumi, kemudian es mencair, juga dapat menyebabkan erupsi.

“Sebenarnya, gunung api itu akan meletus dengan volume dan interval yang sama. Kalau menurut catatan terdahulu, ia meletus 87 tahun yang lalu, maka akan membutuhkan waktu yang sama untuk meletus dengan dahsyat. Kalau waktunya seharusnya belum tiba, tetapi ia sudah meletus, secara vulkanologi relatif bagus. Artinya akumulasi energinya belum banyak,” ujarnya.

Jalur Busur Vulkanik

Empat busur vulkanik di Indonesia meliputi Busur Sunda, Busur Banda, Busur Halmahera, dan Busur Sangihe-Selebes. Menariknya, dalam waktu yang hampir bersamaan, beberapa gunung berapi lainnya yang berada pada busur yang sama dengan Gunung Ibu juga mengalami erupsi. Busur vulkanik bekerja selayaknya “event organizer” karena saling terpengaruh oleh lempeng yang sama serta memiliki interval meletus yang hampir bersamaan

Potensi Bencana Lain Akibat Letusan Gunung Ibu

Gunung api yang meletus sejatinya akan menimbulkan dua bahaya, yaitu bahaya primer dan bahaya sekunder. Bahaya primer adalah bahaya yang terjadi langsung saat erupsi terjadi, seperti aliran lava panas, wedus gembel, efek balistik, abu vulkanik, gas beracun, dan lahar.

Sementara itu, bahaya sekunder merupakan dampak yang timbul usai terjadinya erupsi, seperti tsunami, banjir bandang, dan perubahan cuaca. Bencana sekunder ini dapat lebih berbahaya karena muncul ketika masyarakat sudah mulai lengah.

Langkah Mitigasi yang Dilakukan

Berkaca pada pengalaman letusan Anak Krakatau pada tahun 2018, seluruh pihak sepakat diperlukan kerja sama dari seluruh lapisan yang terlibat untuk saling berkoordinasi dalam menangani peristiwa letusan Gunung Ibu.

Masyarakat juga dituntut menjadi adaptif dalam mengenali karakter gunung api serta meningkatkan kewaspadaan atas berbagai bahaya yang mungkin muncul.

“Dulu, kalau gunung meletus ada suara gemuruhnya dulu, tetapi sekarang banyak gunung yang tiba-tiba saja langsung erupsi. Maka dari itu, kita harus kenal dengan gunung api yang ada di sekitar kita,” tuturnya.

Imbauan kepada Masyarakat

Masyarakat dan wisatawan di sekitar Gunung Ibu diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 km dari gunung serta di area sektoral yang meluas hingga 7 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif Gunung Ibu. Sebagai upaya pencegahan, masyarakat dapat mengenakan masker saat keluar ruangan guna meminimalisasi terhirupnya debu dan partikel berbahaya lainnya.

Reporter: Indira Akmalia Hendri (Perencanaan Wilayah dan Kota, 2021)


scan for download